Harus digaji berapa?

  1. Jadi inshaAllah semester depan aku magang ke tempat bosku.
  2. Aku datangi lalu kasih liat jadwal free. Dia bilang: oh, cuma dua hari. Aku bilang: iya.
  3. Lalu aku tanya, kalau kerja kek gini, aku mau digaji berapa?
  4. Kata dia: 500.
  5. Aku bilang: 700?
  6. Apa an? masak kerja 2 hari seminggu dapet 700?
  7. Tapi aku yakin, aku pantas dapat segitu. Yah, gimana yah…
  8. Beberapa minggu lamaaa yang lalu, aku makan sama co-worker-ku yang pekerja tetap disana.
  9. Dam, kamu tahu? tugas yang bosmu kasih ke kamu itu pernah dihandle oleh programmer lain, 3 bulan dicari masalahnya lom selesai. Kamu bisa 2 jam selesaikan.
  10. Aku yakin aku dengan ‘harga’ 700 itu udah paket paling murah heehe.
  11. Masak temen se-koop-ku aja dapet 500 padahal dia gak ngapa-ngapain. Tugasnya hampir aku kerjakan semua yang tentang programmer. Eh gak hampir, emang semua ding. Bukannya gimana yah, yah… emang nyatanya kek gitu kok.
  12. Terus si bos bilang: woooa ini jadwalmu semester besok? programming semua? saya dulu waktu kuliah dapet A+ di semua pemrograman.
  13. Aku jawab balik lah: aku juga dapet A+ di setiap kelas pemrograman.
  14. Dia langsung diam.
  15. Bukannya pengen skak mat wkk, lu kira catur? Tapi jangan menyombong tentang komputer didepanku.
  16. Tapi kalo steve jobs bilang: aku dulu dapet F di pemrograman. 
  17. Gak bakalan bantah dah gua. XDD
  18. Sekarang coba yah kita pikir…
  19. Supir aja ngetawain aku, wkk, soalnya aku digaji 500 / bulan.
  20. Iya sih aku masih intern. Tapi ingat, aku emang intern, tapi bukan babu. Btw, dia digajih 3000 lebih perbulan.
  21. Sekarang… kalau aku minta 700/bulan selama 4 bulan berturut-turut dengan masa kerja 2 hari seminggu. Let’s do the math:
  22. 2 hari x 4 minggu = 8 hari. Aku kerja 8 hari per bulan.
  23. 8 hari/bulan x 4 bulan = 32 hari / bulan.
  24. Yang mana 32 hari per 4-bulan sebenernya secara logika gak beda kalau aku kerja 1 hari penuh per bulan.
  25. Tapi… aku digajih sum up 2000 per bulan, asumsi kalau aku -mau- digaji 500 perbulan.
  26. Coba… masak supir bisa 3000 per bulan, aku 2000 per bulan. Pakek otak lagi. Hehehe.
  27. Ya sama-sama pakek otak sih, emang nyupir gampang? gak dam. Liat dirimu? Lu bisa nyupir mobil? gak dam. Wkwkwk. 🙂
  28. Normal gak sih kalau aku minta 700 per bulan? Meskipun 2 x seminggu masuknya?
  29. Kalau normal, btw, itu sama aja aku kerja dengan gaji 2800 per bulan yang masih lebih rendah daripada supir itu.
  30. Kalau aku sih gak mata-duitan kali. Ayahku sering berpesan: gak apa kalau dibayar murah, masih kuliah, kan uang saku juga cukup kan dari ayah?
  31. Iya bener.
  32. Tapi toh ayahku juga support dengan pendapatku kalau: aku emang gak se-terlalu-nya sama uang, tapi… aku juga gak mau dibayar rendah.
  33. 🙂
  34. Aku gak mata duitan lo yah! awas kalau ada yang mikir aku mata duitan ;p
  35. Emang sih duit penting. Tapi, mana yang lebih penting: dunia atau akhirat? :p (kok jadi tembus sini).
  36. Nglantur dah. Oke oke. Bye bye. 🙂
Advertisements

Gak gitunya kali juga sih

  1. Dompet gak ada uang seringgitan.
  2. Bis T408 datang. Bis ini mengantar dari tempat A ke B yang ini aku tuju.
  3. Masalahnya: ga ada uang seringgitan.
  4. Sama supirnya: ga ada, tukar sana ke kounter taksi.
  5. Si kaunter taksi pun bilang: ga ada. 
  6. Tanya ke supir. Banyak supir. Semua bilang ga ada.
  7. Tanya ke banyak orang: ga ada.
  8. Mereka ga ada buka dompet.
  9. Mereka ga ada liat saku.
  10. Mereka ga bakal memikir sedetikpun: beneran ada pa gak.
  11. Apa banyaknya satu ringgit?
  12. Apa susahnya diajak tukar?
  13. Apa ruginya menolong?
  14. Toh ini dalam keadaan sangat terjepit.
  15. Aku kembali ke supir bis. Aku bilang: mereka semua ga ada duit.
  16. Diacuhkan 100% !
  17. Aku aku sadari. Mungkin mereka bermaksud: grown up child, this world is not your mother.
  18. Tapi ya gak gitunya kali juga sih. Toh Tuhan lebih suka kalau manusia saling membantu, gak sih?!
  19. Jadi aku jalaaaaaan untung ke temu orang jualan. Gak jauh juga sih, untung 🙂
  20. Aku beli teh teh lemon.
  21. Disana ada bapak-bapak.
  22. “Ini tanya ke anak muda, saya tak tau kalau isi pulsa” sekitar itulah, di Bahasa Melayu,
  23. Jadi ada bapak mau isi pulsa sama ibu, mereka dah tua, keliatannya habis perjalanan jauh mereka mau telpon tapi ga ada pulsa.
  24. Mana lagi, tulisan instruksinya kecil-kecil.
  25. Aku bantu dia isikan.
  26. Aku bantu dia pencet tombol.
  27. Meski jujur dihati: moga ga ditinggal bis.
  28. Tapi meskipun itu ada di hati, aku gak biarkan dia kesusahan.
  29. Allah pasti Maha Melihat. Maha Menolong.
  30. Akhirnya bisa. Bisa lihat juga betapa senang, tertolongnya muka bapak dan ibu itu.
  31. Syukurlah. Bispun masih disana.
  32. Yah: gak gitunya kali juga sih.

Tiba-tiba gak mood

  1. Pernah dibilangin orang tua, jangan tidur sore-sore.
  2. Tapi serius ngantuk berat siang-agak-ke-sore hari ini.
  3. Tidur.
  4. Bangun tiba-tiba jadi gak mood.
  5. Abis gitu baca:
  6. “Typically we are more depressed when we wake up, and as the day goes on we become more optimistic”.
  7. -___-
  8. Pas, lagi males sangat buat tulisan ini aja coba liat: ketara gak mood-nya.

Birthday

Only two of my friends did know my birthday, I guess: Citra and Hansen. Wait, let me remember the very firsssttt time I celebrate birthday: no history recorded. No single photo about birthday. No clown. No present. Nobody know nobody care, even me never care about my own birthday. Actually… there is a reason for this of why we don’t celebrate birthday, just say “Selamat Ulangtahun” and that’s it. Never invited any guests to come, any clown to entertain, or any cake to share.

It’s the first birthday that out of nowhere got celebrated for the first time when I was in the 3rd grade. If I recall, that’s because (I Believe) my friend told me about my birthdate, which I hypothesized (I truly didn’t know how they know). So, they are Lafio, Undrak, Bagas, Pipit, Ayuk, and all the gangs. What they did is… I have my eyes closed for no reason, and I never come into thinking that they will celebrate mine because I NEVER CELEBRATE IT BEFORE. All my uniform are full of cake, and oil. I.. hahaha, angry at them trying to tell my teacher that I was abused.

That’s long time ago.

Even at SMA (secondary school), no body are celebrating my birthday. In my SMA, whoever get birthday celebrated, are -thrown- into the school fountain. I never ever thrown there. Actually yes I did, but that is not because I celebrated my own birthday but because I -incidentally enough- are the second-highest rank for UNAS TryOut for the first time (after that I never try my best to score the best, again).

So come to uni, I confident enough nobody will ever know my birthday.

Then on one day, all of Indonesian folks went to a house for old folks. There we share stories and sing lot of songs. As I was approaching somebody, she asked me my birthday and I tell her mine. But I not yet realized that any will heard and then… this come Hansen singing in a self-made song about birthday, then I realize Hansen would know.

Now if I can said is something, that thing is: well… birthday for me is important, my heart said so; but there’s something you believe to nothing more important than that than seeing what birthday really mean. We are going to die, our life is shorter and shorter.

Though, everybody going to die isn’t it? no life being is mortal? why not make living a little bit fun? by celebrating birthday as for example? religion also not prohibited that isn’t it? now the logic is: if anybody going to die but the difference are they celebrated their birthday while me not, then…

Then I should say a lot of thank you to Hansen, Citra, Timmy, Rafsan, Ahau 😀 (for adham, always and always adham -__-), Darren, Freddy, Dewa Young, Buddy. Thanks. I really surprised.