Equal-learning

  1. Gue rasa internship adalah masa yang paling seru untuk belajar tentang teknologi, di suatu perusahaan
  2. Jadi barusan, ada masalah yang cukup menarik
  3. Penggunaan background job
  4. Jadi meskipun itu satu story, gue assign itu ke semua interns
  5. 2 orang interns, to be precise
  6. Jadi gue beri pilihan: delayed_job, sidekiq, sucker_punch
  7. Gue gak bilang, mana yang lebih baik, mana yang buruk, atau harus pilih yang itu
  8. Karena setiap tools punya tempat masing-masing
  9. Instead, gue ajak anak-anak intern untuk discover jawaban yang sesuai untuk diri mereka
  10. Dengan begitu, mereka sama-sama belajar, punya kesempatan yang sama untuk mempelajari teknologi baru, dan sama-sama berkembang
  11. Pada akhirnya, mereka sendiri yang akan melakukan komparasi antara library-library tersebut
  12. Hopefully, internship period mereka di sini bakalan berkesan

quality_teacher-1i4b2fp

Advertisements

Iri ke hal yang gak penting

  1. Iya gue iri soalnya gak diajak hiking, padahal gue pingin ikut. Tau aja kagak
  2. Iya gue iri soalnya gue gak dapat apapun yang menantang, honestly gue somehow think it’s like sort of wasting time
    1. Pada akhirnya gue cari topik-topik yang menurut gue, menantang bagi gue
  3. Tapi kenapa banget gue harus iri?
  4. It’s irrecoverable, and unexplainable
  5. Mungkin karena ada rasa wasting time
    1. Rasa, anggapan diri sendiri
    2. Please, don’t ask me to do things for me is already quite easy
      1. Shall afraid I will blow something up, just turned me down long time ago
      2. Easy is when you can do it fast
      3. Easy is when you get halfhearted at doing things
  6. Or kayak gak dianggap
  7. Jadi gak cuma iri sih rasanya, ada sense of: overal don’t belong-ness
  8. Sense of mistrust
  9. Anyway, I hope this will heal over time
    1. It’s getting better tho
    2. Sad actually of feeling this
    3. Everyone makes mistakes, right?
  10. Tapi kapan?
  11. Gimana caranya?
  12. Felt like forrever
  13. Well… one lesson learned?
  14. Sorry

Feeling of Go(lang)

  1. I like the interface {}, menurut gue itu unik
  2. Gue suka gue bisa define type yang gue mau
  3. Procedural, nggak. Functional, nggak juga. Apaan yak?
  4. Gue bisa associate function ke type, dan struct
  5. Bahasanya static, tapi ala-ala dynamic (thanks to {})
  6. Susah, dan manual kalau mau bikin konkurensi ala Elixir (yang ada parent, terus ada reset strategy, dsb).
  7. Gampang dipelajari, tapi mungkin susah dikuasai. (Channel, go-routine, ?)
  8. Cumbersome, meskipun bahasanya terlihat simpel. Tapi dikit-dikit lu harus check err != nil. -_-‘ males banget. Kode jadi kelihatan panjang, terus, alasan gue milih ruby: biar gue punya kode yang lebih reflective ke yang gue mau.
  9. Banyak proyek open source keren dibuat pake Go.
  10. Single binary, really awesome!

0149fe8756b471b6e47ec5e1051e023e1e602749

Kalau gue nge gopherize diri gue sendiri, jadinya harus kayak di atas. Hahaha. Sebenernya gue nulis post ini biar bisa majang gambar diatas sih. Point-point ke-10, itu cuma selingan wakakak. Tapi gw lebih suka elixir by the way, kalau gak kepaksa/dipaksa makai Go, either gue bakal pilih Ruby atau Elixir. Sayangnya Elixir/Ruby gak bisa custom logo kayak Gopher. Itu aja gak enaknya.

Gue orangnya fast-learning tapi kadang gak percaya diri

Setelah nge-open sekitar 8 merge request ke Gitlab. Tanpa dipandu, largely. Gue ngerasa gue orangnya fast-learn sih (promosi diri hahahaha).

Iya….

Apa karena proyeknya gede?

Menantang?

Bikin gue penasaran, ini gimana kerjanya. Oh ini gini. Oh ini gitu. ABCDEF.

Yang jelas. Cuma 2 jam gue lihat kodenya. Struktur dasar. Dsb. Largely, dikit-dikit bisa submit merge request. Not bad. Sabtu kemarin malah, gue submit like 5 merge requests. Yah, gak susah sih yang gue lakuin honestly. Simple. Really really simple. Gak mau kayak terkesan: gila, 5, keren, gede-gede. Padahal gak. Simpel kok. Gitlab is really very well structured, very well documented. Jadinya gue gampang deh masuk terjun dan berkontribusi.

Tapi by the way. Banyak sebenrnya yang komen gue cepet belajar. Gue cepet faham. Lol. Cuma, kadang gue agak gak yakin apa itu bener. Apalagi kalau kayak tanya dikit terus as if, I cannot do it by myself. Mungkin, meski gue orangnya fast learn, kadang gue perlu bertanya. Dan kalau udah kayak gue ngerasa blo’on gitu hanya karena gua tanya doang, jadi lambat laun jadi less active lol. Hm… Itu sih yang gue pelajari dari diri gue sendiri.

The thing is… I basically quite a fast-learner. Gue bisa bikin library di Python cuma 5 hari belajar. Bikin library di Go cuma 1 minggu belajar. Not bad right?

Tapi ya itu tadi, sebagai orang yang memiliki sisi introvert, kadang malu bertanya. Dan sekalinya bertanya, terus ngarasa kayak dianggap blo’on… tuh sakit and membekas.

Agak agak sibuk bukan main

Yah bayangin aja: ngurusin RubyConf, terus pengen coba kontribusi di proyek open source, urusin startup.

Oh tentang startup. Well… gue harus bikin ATM a/n PT. Ribet banget 😦 kayaknya enaknya gue a/n diri sendiri deh. Biar gak ribet. Masak awal-awal dah ribet gini.

Bulan depan juga belum prepare slide buat ke Medan dan Surabaya. Terus ada target data mining.

Nih nih, terus ditagih library Python, Go. Oh ya terus belum lagi di tagih submit artikel ke InfoQ. Terus submit juga artikel editan ke TechInAsia. Belum rencana bikin buku, apalah inilah itulah.

Sibuk sih. Tapi tetep, gue gak ngerasa ada adrenalin dari kesibukan ini. It’s just a normal busy. Gak sibuk yang gue rasa waktu kuliah dulu. Sibuk tapi ada rasa gimana yak, susah dibahas. Iya gue sibuk. Iya asik. Nyelenggarain RubyConf, meet new people and stuffs. Gw bersyukur ada kesibukan itu. But there’s just no adrenaline. Like, it’s easy stuff that eventually fall into place (WKWKWK, lol. Hopefully. especially RubyConf one).

WELL ALL THE BESTTTTTTTTT!